Minggu, 06 Maret 2016

Takengon, Negeri Di Atas Awan

                      Takengon, Negeri Di Atas Awan

Takengon dan Laut TKota awar dari Udara


Cobalah Anda datang ke Takengon dan nikmati Danau Laut Tawar. Dengan 4 hari di daerah ini adalah gabungan wisata bersepeda, renungan masa lalu, masa depan, dan masa kini. Di sini Anda menikmati keindahan negeri di atas awan dan berwisata kuliner di daerah penghasil kopi nikmat. Alamnya sangat indah dan berbeda dengan dengan tempat wisata sejenis baik di Indonesia maupun tempat lain di dunia ini.
Ketika Anda menjelajah jalan berkelok-kelok di samping keretakan indah Gunung Geureundong dalam perjalanan ke Takengon, sebuah kota kecil dengan penduduk tidak lebih dari 230.000 di Aceh Tengah, mata Anda akan terhibur dengan pemandangan visual lewat pohon pinus di sisi Anda, serangkaian vegetasi tropis dihiasi dengan rumah semi permanen, dan wajah tertegun dari anak-anak lokal ketik Labi-Labi anda melewati mereka. 
Angin dingin akan menyapu wajah Anda, saat Anda melewati lapisan kabut. Di sini, suhu rata-rata hampir permanen sekitar 20 derajat selsius, atau 68 derajat Fahrenheit yang nyaman. 100 kilometer dari tepi barat, kota kecil Takengon yang indah ini menyambut Anda.
Takengon adalah ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Kawasan ini merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk dan memiliki beragam tempat wisata indah di antaranya adalah Danau Laut Tawar, Puteri Pukes, dan Pantan Terong. Kota Takengon terletak berdekatan dengan Kabupaten Bener Meriah, dan sekitar 100 km dari Kota Bireun.

Takegon adalah kota distrik Aceh Tengah. Menawarkan banyak kelangkaan yang Anda harus lihat. Makanan yang unik dan hal ini harus di catat. Argowisata dan kegiatan di sekitar Danau Laut Tawar merupakan alasan untuk memperpanjang kunjungan anda. Belum lagi legenda seorang putri yang berubah menjadi batu dengan penjaganya yang tak terlihat. Hal ini jauh dari omong kosong bila kita menyebutkan Aceh benar-benar merupakan gerbang rohani ke Indonesia pertama.


Datang dan lihat keidahannya oleh Anda sendiri. Kisah yang Anda ceritakan sepulang dari sini akan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan dan terlalu berharga untuk di lewatkan. Inilah Aceh, yang akan membuat permulaan indah dalam perjalanan wisata Anda kepulauan barat Nusantara.
Kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan berada di tengah-tengah di Provinsi Aceh. Takengon merupakan tujuan wisata yang berada di dataran tinggi Gayo. keindahaan alamnya seolah tersembunyi karena di kelilingi oleh gunung-gunung. Banyak pengunjung seolah tidak ingin pulang lagi setelah mengunjungi wilayah indah ini karena tempatnya sejuk, nyaman, aman, dan masyarakatnya yang ramah.

Wajib Anda Kunjungi

Putri Pukes
Loyang Putri Pukes adalah gua yang menciptakan legenda lokal bernama Putri Pukes. Dia pernah menikah dengan seorang pria dari desa tetangga. Saat ia memulai hidup baru, dia harus meninggalkan rumah orang tuanya. 

Prosesnya terlalu menekan dirinya, meskipun ibunya mengatakan bahwa 'Kamu tidak akan memalingkan kepala me kerumah kita, ketika kamu pergi ke desa suamimu'. Dia gagal untuk mengikuti peringatan, dan tiba-tiba ia berubah menjadi batu. Ini adalah legenda yang sangat jelas hidup dalam kisah itu lokal.

Takengon memiliki Danau Laut Tawar dimana di dalamnya ada ikan deupik dan hanya hidup di Takengon. Inilah salah satu objek wisata yang istimewa di Kabupaten Aceh Tengah. Keistimewaan danau ini yang dapat Anda nikmati selain pemandangannya yang indah dan airnya yang tidak asin, terdapat pula empat gua yang mengelilingi danau tersebut. Danau tersebut luasnya hampir seperti laut, karena itu masyarakat menyebutnya Danau Laut Tawar. Ada kapal motor yang dapat membawa Anda untuk mengelilingi danau ini. Danau ini sangat alami dan tampak belum banyak disentuh tangan manusia, airnya yang jernih membuat Anda dapat melihat terumbu karang dan ikan yang berenang di dalamnya.

Danau Laut Tawar adalah tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Takengon karena ini adalah ikon yang paling menonjol dari kota, diikuti dengan Gua Loyang Putri Pukes. Danau Laut Tawar, atau laut air segar, kaya dengan ikan trout (sejenis ikan laut tawar) dan memancing sangat memungkinkan. Kegiatan berski dan berperahu juga tersedia di beberapa tempat.

Di sini di Takengon Anda juga dapat berjalan-jalan di kebun kopi yang bercita rasa khas, beruntung bila Anda datang saat panen kopi dan menikmati kemeriahannya. Anda juga dapat mandi di Krueng Peusangan atau pemandian air panas di Simpang Balek, terletak 30 menit sebelum Takengon.
Penginapan
Pilihan penginapan meski tidak banyak namun umumnya murah dan bersih. Ada Hotel Triarga yang terletak di dekat terminal bus dimana Anda bisa langsung jalan kaki dari tempat perhentian bus di daerah pasar. 
Ada juga Hotel Renggali yang berada tepat di pinggir danau dengan pemandangan langsung menghadap Danau Laut Tawar. 
Untuk Anda yang ingin berpetualang atau backpacker maka ada penginapan Batang Ruang di Jalan Mahkamah, daerahnya lebih terkenal dengan nama Gentala dan persis di tengah kota. Gunung Burni Telong adalah tempat yang tepat untuk Anda Trekking, ada juga gunung berapi di Bener Meriah, Laut Kucak di Bener Meriah berupa danau di puncak gunung.
Kuliner
Jangan lupa Anda berwisata kuliner di Takengon dengan mencicipi ikan deupik yang nikmat dan khas Danau Laut Tawar. Ikan ini adalah sejenis ikan air tawar famili Iwak wadher yang tidak ada di daerah lain. Selain itu cobalah cicipi kopi takengon atau kopi gayo yang terkenal dan nenas berukuran kecil namun rasanya manis sekali terletak di perkebunan daerah Isak Takengon.
Transportasi
Baik dari arah Banda Aceh atau Lhokseumawe-Medan menuju ke arah barat, kita dapat menempuh jalan darat sekitar 100KM melalui jalan di pergunungan yang indah yang lengkap dengan jurang-jurang dalam yang hijau memikat melewati Kabupaten Bireun dan Bener Meriah. Dari arah barat, kita dapat mencapai daerah ini lewat darat juga melalui kabupaten Aceh Barat. Selain dari darat, dapat juga melalui udara dengan pesawat kecil.
Tips
Takengon adalah daerah syariat Islam dan cukup dingin. Lebih baik Anda memakai pakaian tertutup. Jangan lupa memory yang ukuran besar untuk kamera Anda karena banyak objek yang indah dan menarik untuk Anda abadikan.

Danau Laut Tawar, Tempat Liburan & Lomba Masak

1354025976329493825
Liburan akhir tahun sudah menjadi tradisi atau semacam aturan tidak tertulis di tempat kerja saya. Waktu yang dipilih adalah tanggal 1 Januari setiap awal tahun yang merupakan hari libur nasional. Sebagai hari libur nasional, anak-anak karyawan masih dalam masa liburan sekolah. Waktunya sangat pas untuk libur bersama. Kemungkinan besar seluruh anggota keluarga karyawan dan karyawati bisa ikut berlibur.
Kami semua bersepakat bahwa liburan bersama keluarga tahun ini mengambil lokasi di tepi Ujung Nunang, Danau Laut Tawar Aceh Tengah, sekitar 15 Km dari Takengon. Agendanya adalah liburan bersama keluarga plus lomba memasak masam jing, menu khas warga Tanoh Gayo. Peserta lomba memasak itu akan diikuti oleh isteri-isteri karyawan, serta karyawati dari masing-masing bidang dan sekretariat.
Untuk biaya membeli bahan baku lomba memasak ini, sepenuhnya disediakan oleh kantor. Rencananya, setelah penetapan pemenang lomba, maka hasil masakan isteri karyawan tersebut akan menjadi menu makan siang seluruh keluarga yang ikut liburan bersama. Dengan demikian, biaya liburan lebih hemat tetapi sangat bermanfaat. Salah satu manfaatnya untuk menguji kemampuan memasak para isteri karyawan.
Gagasan liburan yang disertai dengan lomba memasak mendapat dukungan seluruh karyawan dan karyawati. Mereka menyatakan akan berperanserta dalam lomba memasak itu. Sebab, kepada para pemenang lomba memasak akan diberikan hadiah istimewa plus mewakili kantor untuk mengikuti lomba memasak tingkat kabupaten.
Malam sebelum acara, beberapa karyawan yang mendapat tugas sebagai seksi tempat sudah berangkat lebih dahulu. Mereka diberi tugas untuk memasang tenda dan menyiapkan dapur untuk tempat memasak. Tim pioner itu langsung menginap di lokasi acara. Mereka yang menginap di lokasi acara bukan hanya seksi tempat, sebagian besar karyawan ikut berkemah di lokasi acara.

13540262591550666339
Panorama Ujung Paking, salah satu tanjung di Danau Laut Tawar tempat orang-orang menghabiskan liburan akhir tahun.
Tepat sekitar pukul 08.00 WIB, tanggal 1 Januari, seluruh peserta lomba sudah siap dengan cabe, tomat, bawang putih, bawang merah dan berbagai rempah-rempah yang lain. Bersamaan dengan itu, semua peserta lomba memasak dipersilakan untuk mulai menggiling bumbu dan membersihkan ikan.
Waktu yang diberikan kepada peserta lomba memasak sekitar tiga jam. Diperkirakan, tepat pukul 11.00 WIB, semua menu yang diperlombakan sudah tersaji di atas meja. Untuk menyemangati para peserta lomba memasak, panitia menghibur mereka dengan penampilan organ tunggal. Para penyanyinya adalah karyawan, karyawati, termasuk peserta lomba memasak yang sedang menunggu menunya masak. Semua sepakat, inilah liburan paling meriah dari semua liburan akhir tahun.
Sebelum tiba pukul 11.00 WIB, ternyata menu yang dilombakan sudah tersaji dan tertata dengan rapi di atas meja. Aspek yang dinilai dalam perlombaan itu meliputi kelezatannya, metode penyajian dan penataan meja. Supaya penilaian obyektif, dewan juri sengaja didatangkan khusus dari luar instansi tempat kami bekerja. Hasilnya, menu yang disajikan oleh Tim Ibu Tono meraih juara pertama dan berhak mewakili instansi kami untuk mengikuti lomba memasak di tingkat kabupaten.
Acara selanjutnya adalah makan siang bersama. Semua orang bebas memilih menu dari empat tim yang ikut lomba memasak hari itu. Walaupun menggunakan bahan dan bumbu yang sama, ternyata rasa menu masakan yang mereka buat sungguh sangat berbeda. Malah, terdapat menu yang kelewat asin, ada juga yang terlalu pedas. Benar kata chef dan ahli memasak, bahwa rasa suatu masakan sangat tergantung kepada talenta memasak seseorang, bukan karena bumbunya.

13540263871574461611
Mengisi acara liburan di Danau Laut Tawar dengan acara lomba memasak ikan yang terdapat dalam danau itu.
Meskipun menu yang disajikan rasanya “nano-nano” ternyata semuanya habis. Anak-anak karyawan dan karyawati berulangkali tambah nasi. Hal itu membuktikan bahwa menu masakan yang disajikan para peserta lomba memasak, semuanya enak. Isteri para karyawan yang menjadi peserta lomba senyum-senyum menyaksikan hasil masakan mereka menjadi rebutan anak-anak.
Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan menyanyi yang diringi oleh organ tunggal. Sementara itu, anak-anak balita yang dikawal ibu serta kakaknya mandi-mandi di pinggir Danau Laut Tawar yang berair jernih. Sangat meriah suasananya, dan semua bergembira ria. Liburan akhir tahun ini, pantai pasir disekeliling Danau Laut Tawar dipenuhi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah yang sengaja berlibur disana. Hotel berbintang tiga sampai losmen yang terdapat di Kota Takengon, sebulan sebelum acara tahun baru sudah dibooking orang. Inilah bagian terkecil dari pesona Danau Laut Tawar, danau berair jernih yang luasnya mencapai 5.742 hektar.
Transportasi dari medan Anda dapat langsung ke jalan Gajah Mada di Medan, disana berkumpul segala macam bus yg menuju aceh termasuk ke Takengon. Lebih cepat Anda bisa menggunakan mobil travel yang menjemput dan langsung mengantarkan ke tujuan meski biasanya ongkosnya lebih mahal. Bus menuju Takengon berangkat midnight biar sampai disana pagi hari. Ada Anugerah, Pelangi atau Kurnia dan PMTOH. Bila Anda datang bersama lebih dari lima orang, lebih baik menyewa mobil dari Medan.



***

Asal mula Danau Laut Tawar


Danau Laut Tawar, Takengon, Nanggroeh Aceh Darussalam


Alkisah dulu di Takengon pernah ada sebuah kerajaan, tdk diketahui secara jelas apa nm kerajaannya tapi yg pasti dikerajaan itu ada seorang putri yg bernama Putri Pukes.

Putri Pukes mencintai seorang pria dari kerajaan lain tapi hubungan mereka tdk disetujui oleh orang tua Putri Pukes. Tapi sang putri tetap teguh dgn keinginannya sehingga akhirnya terjadilah pernikahan.

Saat Putri Pukes akan pergi menuju kerajaan suaminya, orang tua yg dari awal hubungan mrk tdk setuju berpesan…"Jika kau sudah pergi meninggalkan kerajaan ini janganlah sekalipun engkau palingkan wajahmu ke belakang "

Sang putri yang saat itu bimbang antara sayang dgn org tuanya serta cinta pada suaminya ternyata tdk dpt menahan kesedihan akibat kehilangan itu . Serta merta saat perjalanan yang dikawal oleh bbrp prajurit itu sang putri tdk sadar memalingkan wajahnya ke belakang…tiba2 bersamaan dgn itu datanglah petir yg diiringi dgn hujan lebat.

Parapengawal menganjurkan kepada putri utk berteduh di sebuah gua yang tdk jauh dr tempat mereka.

Setelah berteduh dan mrk akan melanjutkan perjalanan, para pengawalpun memanggil putri yg berdiri disudut sendirian. Tapi dipanggil berkali2 sang putri tdk menyahut, ternyata setelah didatangi badan sang putri sudah mengeras seperti batu.

Sampai sekarang patung membatu sang putri sudah membesar dibagian bawahnya, tapi msh jelas bentuk sanggul dan perawakan yg mungil dari sang putri. Bagian bawah badannya yg besar katanya diakibatkan air matanya yg sampai skrg kadang2 msh jatuh. Kata sang penjaga jika org yg mengunjungi dan mengetahui kisah putri trus merasa sedih patung sang putri bisa saja tiba2 ikut mengeluarkan air matanya.

Disana juga ada lubang tempat suami sang putri lari, yg ktnya sampai sekarang arwahnya msh sering menjaga sang putri…begitulah kt sang penjaga.

Akibat hujan deras tadi terjadilah Danau Laut Tawar yang sampai sekarang byk dikunjungi oleh orang.
Oleh Hendy Hy

LEGENDA PUTRI PUKES, TAKENGON, NAD

GUA PUTRI PUKES
Legenda Puteri Pukes
Pemandangan di seputar danau sangat eksotik dan menarik. Banyak cerita legenda yang mengelilingi keindahan danau ini, seperti legenda beberapa goa. Yang cukup terkenal adalah Legenda Goa Puteri Pukes. Cerita kehadiran goa yang berada di pinggir danau ini cukup menggelitik.
Konon, saat tuah orang tua masih menjadi kenyataan, hiduplah seorang puteri bernama Pukes. Puteri Pukes kemudian dipinang oleh seorang pangeran dari seberang Danau Laut Tawar. Sesuai adat, jika seorang perempuan sudah dipinang dan diperistri, maka ia harus ikut dan tinggal dalam lingkungan keluarga besar suaminya.
Setelah dipinang, Puteri Pukes pun harus meninggalkan kedua orangtua, saudara dan kampung halamannya menuju kampung halaman sang suami. Sebelum sang puteri berangkat, terlebih dahulu ia diberi petuah oleh orangtuanya. Satu pesan yang harus ia ingat dan patuhi adalah, agar sang anak tidak menoleh ke belakang melihat orangtua, saudara ataupun kampung halamannya. Ia harus meneguhkan keyakinan untuk ikut bersama keluarga sang suami.
Meski sedih dengan pesan tersebut, namun sang puteri tetap harus mematuhinya. Saat perjalanan melintas danau menuju negeri sang suami, tiba-tiba sang puteri merasakan rindu yang tak terperi kepada orangtua dan kampung halamannya. Tanpa disengaja, ia pun menoleh ke belakang untuk sekadar melihat. Tuah orang tua pun terjadi. Dalam sekejap, cuaca yang cerah berubah menjadi gelap, dan petir di angkasa sambung menyambung. Badai pun datang. Tiba-tiba, sang puteri berubah wujud menjadi batu.
Kini, di dalam Goa Puteri Pukes yang berada di pinggir jalan, tepat di depan danau, terdapat patung seorang puteri. Konon, sesekali patung tersebut mengeluarkan air mata penyesalan akibat tak mendengar petuah orangtuanya. Objek wisata ini cukup ramai dikunjungi masyarakat sekitar maupun pendatang, terutama di hari libur.

TAKENGON

 TAKENGON merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Indonesia. Kota Takengon terletak di sisi Danau Laut Tawar, di tengah-tengah wilayah provinsi Aceh. Kawasan ini merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk dengan ketinggian sekitar 1200 m di atas permukaan laut. Banyak terdapat tempat wisata di kawasan ini, di antaranya adalah Danau Laut Tawar, Gua Puteri Pukes, Pantan Terong. Mayoritas penduduk kota Takengon adalah Suku Gayo, yang lain nya bersuku Aceh, minang, jawa dll.

Seni dan Budaya

Tari Guel
Kesenian di daerah ini sangat menarik karena terdapat kesenian Didong yang sangat dikagumi oleh masyarakat Takengon. Salah satu acara yang sangat menarik perhatian masyarakat di dalam daerah maupun di luar daerah ini adalah acara pacuan kuda yang biasanya diadakan pada pertengahan bulan Agustus untuk menyambut dan merayakan hari Kemerdekaaan Republik Indonesia.

Sejarah Suku Gayo

uku bangsa ini berdiam di Kabupaten Aceh Tengah. Sebagian lain tinggal di Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Timur, terutama di sekitar Danau Laut Tawar, di sela-sela pegunungan Bukit Barisan, dan di sekitar Hulu Sungai Peureulak dan Jamboayee.


sejarah-suku-gayo

Orang Gayo terbagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu Gayo Laut, Gayo Serbejadi, dan Gayo Kalul. Warga masyarakat Gayo Laut dan Gayo Deret berjumlah sekitar 108.000 jiwa, dan berdiam di Kabupaten Aceh Tengah. Gayo Lues atau Gayo Belang berjumlah sekitar 36.000 jiwa dan berdiam di Kabupaten Aceh Tenggara. Gayo Serbejadi atau Gayo Semamah dan Gayo Kalul berjumlah sekitar 6.000 jiwa, dan berdiam di Kabupaten Aceh Timur. Seluruhnya berjumlah sekitar 120.000 jiwa.

Nama Gayo berasal dari kata Kayo yang berarti "takut" atau melarikan diri. Menurut sementara orang pada waktu agama Islam masuk sebagian penduduk pesisir melarikan diri ke pedalaman dan bergabung dengan orang pedalaman. Setelah akhirnya mereka mau juga menerima agama Islam, nama kayo sudah terlanjur melekat menjadi mereka. Lama-lama nama itu berubah menjadi Gayo.

Bahasa Suku Gayo

Bahasa Gayo termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, dari sub-rumpun Hesperonesia. Bahasa Gayo juga terpengaruh oleh bahasa Aceh, seperti pada bahasa kelompok Gayo Kalul dan Serbejadi. Bahasa Gayo terdiri dari beberapa dialek, seperti dialek Gayo Lut yang terbagi lagi menjadi sub-dialek Lut dan Deret, lalu dialek Gayo Lues yang terbagi lagi menjadi sub-dialek Lues dan Serbejadi.

Kemasyarakatan, Kekerabatan, dan Kekeluargaan Suku Gayo

Kesatuan hidup setempat yang terkecil disebut kampong (pada masa sekarang sudah disebut desa) yang dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa buah kampung disebut kemukiman yang dikepalai oleh seorang mukim. Sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan. Dalam setiap kampung ada unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat. Pada masa lalu unsurnya terdiri atas reje, petue, imeum, dan rayat, dan pada masa sekarang terdiri atas gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat.  

Orang Gayo menganut sistem perkawinan eksogami belah (klen). Adat menetap sesudah kawin adalah virilokal. Pihak wanita menyebut perkawinan itu juelen (jualan), sedangkan pihak laki-laki menyebut ango. Pihak laki-laki harus membayar sejumlah unyuk atau teniron (permintaan), selain mahar yang harus dibayarkan menurut ajaran agama Islam. Selain adat menetap virilokal (disekitar kediaman orang tua suami) orang Gayo juga mengenal adat menetap uksorilokal (disekitar kediaman orang tua si isteri) yang disebut angkap.

Kelompok kekerabatan terkecil disebut sara ine (keluarga inti). Sebelum pindah ke rumah sendiri keluarga inti bergabung dengan keluarga luas terbatas yang disebut sara dapur. Dulu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara rumah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen).

Sekarang keluarga inti mendiami rumah keluarga sendiri-sendiri. Pada masa sekarang pelapisan sosial dalam masyarakat suku Gayo tidak begitu jelas. Dulu memang dikenal beberapa lapisan sosial, yaitu golongan pemimpin yang terdiri dari reje, penghulu, dan imem, lalu di bawahnya adalah rayat atau suderee (rakyat biasa), dan kemudian ada pula lapisan paling bawah yang disebut temuluk (budak).
Baca juga Suku Lainnya Di Sumatera :

Mata Pencaharian Suku Gayo

Mata Pencaharian utama orang Gayo adalah bertani padi di sawah. Walaupun begitu, pertanian ladang sudah ada sejak dulu, yaitu untuk bertanam kepile (ketela), gadung (ubi kayu), penggele (labu), terong, Cabe, jagung, pisang. Tanaman lain seperti tembakau, kopi, tebu, kentang, dan kol sudah lama pula mereka kenal. Dulu pekerjaan berat dikerjakan bersama-sama secara alung-tulung (gotong royong). Untuk mengerjakan pertanian di sawah mereka menggunakan bajak yang ditarik oleh kuda. Peralatan hidup sehari-hari kebanyakan mereka buat dari tanah liat (gerabah), selain mengembangkan kerajinan anyaman dari berbagai jenis pandan dan bambu, serta membuat barang berukir dari kayu.

Agama Dan Kepercayaan Suku Gayo

Pada masa sekarang orang Gayo termasuk pemeluk agama Islam yang taat. Akan tetapi sebagian dari mereka masih mencampurkannya dengan kepercayaan asli, seperti yang nampak pada pemujaan kuburan, praktik ilmu gaib, guna-guna, pemanis, dan sebagainya.

Kesenian Dan Kebudayaan Suku Gayo

Kesenian Suku Gayo yang terkenal adalah tari saman dan seni teater sastra yang disebut didong. Awalnya kesenian saman dan didong ini digunakan untuk dakwah, menyiarkan agama Islam, namun dalam perkembangan berikutnya didong juga digunakan masyarakat untuk menyampaikan kritik sosial dan politik. Nilai budaya yang cukup penting mempelajari orang Gayo adalah prinsip hidup yang disebut mukenel (harga diri) yang mendorong orang Gayo untuk hidup bersikekemelen (kompetitif) di dalam dan di luar masyarakatnya